• 17th April
    2011
  • 17

STUDY ABROAD

Salah satu filosofi bapak saya yang lumayan sering dikatakan adalah “seseorang tidak akan pernah mempunyai sisi thinking yang berbeda dan maju jika ia belum pernah sekolah di luar negeri”. Dulu waktu SD saya belum percaya, tapi dewasa ini, ketika di periode ini saya sudah mulai punya engagement dengan skripsi dan mulai memikirkan dunia kerja, barulah saya paham. Iya memang terlihat bedanya antara orang-orang yang hanya menempuh pendidikan di Indonesia dan yang sudah pernah menempuh pendidikan di luar negeri.

Bedanya dimana (selain di penguasaan bahasa asing ya hehe) sih?

Bedanya adalah di ketahanan kerja dan manajemen waktu.

Mungkin mereka terkena imbas budaya workaholic dan fungsionalis atau mungkin individualis dari negara barat atau negara-negara yang tentunya lebih maju dari Indonesia, sehingga akhirnya pelajar-pelajar Indonesia ini menjadi ikut-ikutan begitu juga. Dan bagusnya, kebanyakan pelajar ini tidak bisa dengan mudah meninggalkan budaya ketimuran seperti sopan santun atau unggah-ungguh istilahnya. Sehingga hasilnya adalah pribadi yang jago bahasa asing, dengan ketahanan kerja yang tinggi dan manajemen waktu yang baik, serta punya integritas ketimuran.

Sounds perfect?

Betenya, adalah ketika ada jabatan-jabatan tertentu di perusahaan yang sebenarnya tidak seberapa butuh penguasaan bahasa asing, seperti teller bank nasional yang nasabahnya jelas-jelas nyaris 100 persen orang pribumi, yang waktu proses seleksi dan rekuitmennya memakai bahasa inggris, ngga nyambung banget..hehe. dan jangan salahkan yang daftar jika mereka kagok waktu sesi wawancara bahasa inggris, karena memang kualifikasinya hanya untuk teller, jangan berharap calon pendaftar yang “lebih-lebih”..hehehe.. tapi entahlah, mungkin perusahaan-perusahaan itu punya pemikiran sendiri yang saya belum tahu.

Balik lagi ke pelajar-pelajar yang sudah pernah sekolah di luar negeri, di Surabaya masih agak jarang ya, tapi mungkin di Jakarta uda biasa banget..

Soal temen-temen yang sedang atau sudah menempuh pendidikan S1 atau S2 di luar negeri, atau yang hanya ikut pertukaran pelajar selama satu minggu sampai tiga bulan, saya punya beberapa. Dari mereka, saya memang melihat perbedaan individu yang secara keseluruhan menjadi lebih baik sewaktu mereka pulang, selain lebih bersih kulitnya karena udara di luar negeri bagus banget hehe, yang terlihat mencolok lainnya adalah percaya diri yang meningkat, bukan jadi kepedean, tapi lebih ke arah optimisme bahwa diri mereka bisa. Optimisme ini adalah suatu hal yang sangat positif karena akan mempengaruhi banyak hal, mulai dari etos kerja sampai cara berpikir mereka.

Saya sendiri belum pernah keluar negeri, dan juga entahlah apa bisa keluar negeri nanti hehe, tapi terlepas dari itu, saya belajar, bahwa ngga harus ke luar negeri kok untuk mendapatkan etos kerja yang tinggi, pemahaman bahasa asing yang baik, cara berpikir yang terstruktur, dll. Cukup dengan niat dan praktek. Memang butuh usaha ekstra karena lingkungan belajar kita ngga sekondusif di luar, tapi kalo kita bisa seperti mereka, justru lebih hebat kan =)

Apapun, yang penting adalah totalitas. Totalitas mendekatkan kita dengan apapun impian kita, lulusan Indonesia atau luar Indonesia, nanti waktu daftar kerja bakal balik lagi deh ke kompetensi, dan kompetensimu, cuma kamu yang bisa bangun, bukan kampusmu. Oke? SMANGAT!