• 24th May
    2013
  • 24
London Court in the evening✌😊

London Court in the evening✌😊

  • 2nd April
    2013
  • 02
  • 25th March
    2012
  • 25
At the end all business operations can be reduced to three words: people, product, and profit. People come first. Unless you got a good team, you can’t do much with the other two.
Lee Iacocca-inspirational figure
  • 13th January
    2012
  • 13

(Maaf ya Pak sepeda motor, ngga bermaksud nyipratin kok, suweer =D)

Beberapa hari yang lalu, saya terpaksa pergi ke tempat les naik mobil karena hujannya alay banget. Di tengah jalan, saya merasa beruntung bisa naik mobil karena saya yakin mereka yang naik sepeda motor-walau sudah memakai jas hujan, pasti tetap basah, paling tidak ujung celananya.

Jam waktu itu menunjukkan jam setengah 6 sore, jam-jam macet pulang kantor. Hujan masih deras dan jalanan mulai banyak tergenang air. Karena hujan deras, wiper mobil pun ngga bisa banyak membantu penglihatan saya. Di tengah situasi itu, mobil saya dan mobil-mobil lain tetap berusaha untuk melaju normal. Normal itu 40-60 km/jam.

Yang ngga kita (pengguna mobil) sadari, adalah kecepatan itu pasti akan me”mumbulkan” air yang tergenang di sepanjang jalan yang kita lewati, yang tentunya akan menjadi jebakan batman untuk pengguna motor.

Waktu saya naik motor dulu, saya selalu menyumpah-nyumpahi pengguna mobil yang (menurut saya) benar-benar ngga ada empati dengan pengguna motor karena jalan mereka yang benar-benar masih seenak udel. Iya kalau air cipratan mobil cuma kena sampai sebatas kaki.. Saya pernah mendapat air cipratan sampai mengenai kepala..bisa dibayangkan berapa kecepatan mobilnya. Waktu itu saya cuma bisa berjanji dalam hati, bahwa nanti jika saya naik mobil, ngga bakalan lah saya semena-mena dengan pengguna motor kalau sedang hujan deras..

Dan ternyata tidak semudah itu untuk menepati janji saya ketika saya benar-benar naik mobil.

Sungguh, kita yang sedang menyetir di dalam mobil, sudah berusaha untuk hati-hati dengan jalan. Tapi ternyata hujan deras membuat wiper tidak berfungsi secara maksimal sehinggaaaaa, kadang kita para pengguna mobil tidak menyadari kalau sudah ada air tergenang cukup banyak di samping kiri dan kanan mobil. Nah kalau pas kena lubang, mau ngga mau motor yang ada di sebelah mobil akan terciprat air.

Dalam hal ini, saya lalu berpikir, ya memang tidak semudah itu untuk tidak melakukan kesalahan jika kita ada dalam lingkungan yang tertutup. Dalam hal mobil tadi, kita tertutup kaca-kaca di sekeliling kita, ditambah embun yang membuat penglihatan semakin ngeblur saja. Ditambah lagi dengan situasi di dalam mobil yang nyaman, kadang membuat kita tidak mengindahkan situasi yang terjadi di luar mobil. Dalam hal sehari-hari, ternyata segala fasilitas dan kemewahan yang kita nikmati sekarang, bisa menjadi penjebak kita untuk tidak melihat yang sebenarnya terjadi di luar sana.

Dari kejadian ini, sekarang saya menjadi paham mengapa kebanyakan orang yang hidupnya sudah nyaman, susah untuk membantu, atau paling tidak aware terhadap orang-orang yang hidupnya masih kekurangan.. ngga bisa nyalahin juga, karena memang keadaan yang menutup pandangan mereka.

  • 6th December
    2011
  • 06

Kriteria

Semua orang pasti punya kriteria tertentu untuk memilih calon pasangannya.

Kebanyakan perempuan maunya yang dewasa, agamanya kuat, loyal, dan setia.

Kebanyakan laki-laki maunya yang cantik, ngga ribet, pengertian, dan bisa menerima apa adanya.

Intinya, kriteria calon pasangan biasanya muluk dan isinya bagus-bagus semua hehe. Kenyataannya, mencari pasangan dengan kriteria seperti di atas itu sama seperti mencari uban di rambut anak umur 5 tahun, mungkin ditemukan, tapi probabilitasnya nol koma sekian hehehhehe.

Semakin bertambahnya usia, maka kriteria calon pasangan ini juga akan termodifikasi. Walaupun tidak lepas dari pakem harus yang ini harus yang itu, tapi biasanya kriteria ini smakin lama akan semakin melunak atau menjadi fleksibel.

“walau dia ga loyal tapi agamanya bagus” , atau “oke lah gapapa soalnya dia cantik banget, walau aku kalau jemput dia harus bawa mobil”, dan ungkapan-ungkapan lain yang sering saya dengar dari sahabat-sabahat tentang pasangan mereka yang sebenarnya tidak sesuai kriteria tapi toh mereka jatuh cinta juga, membuat saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa, sebenarnya cinta itu tanpa syarat=)

Sahabat-sahabat saya yang akhirnya rela untuk memodifikasi habis-habisan kriteria pemilihan pasangan ke tingkat fleksibelitas paling tinggi supaya dirinya bisa menerima pasangan dengan segenap rasa syukur, tanpa sadar telah menjadi hadiah terbaik bagi pasangannya. Cuma masalahnya adalah, apakah pasangan mereka mengerti bahwa sahabat-sahabat saya sudah memodifikasi salah satu dari prinsip hidup mereka (yang jelas itu tidak mudah), hanya untuk bisa bersama mereka?

Mostly dari pasangan mereka ternyata tidak tahu.

Buktinya?

Buktinya adalah minimnya usaha untuk menjaga hubungan tetap baik dengan tidak melakukan hal yang sepele tapi berdampak positif yang besar jika dia dibiasakan, seperti menjaga komunikasi, menepati janji, kasi surprise kecil-kecilan, dan menyediakan quality time berdua. Hal-hal sepele yang berdampak sangat positif jika dibiasakan ini, biasanya (sayangnya) menjadi alasan-alasan putusnya hubungan.

“dia sering ilang, dicariin susah banget”, atau “selalu umbar janji tapi ada aja alasan untuk ngga nglakuin”, atau “dia gitu-gitu aja, ngga perna ada surprise, aku bosan”, dan “sibuknya selangit ya, ngga perna ada waktu untuk berdua”.

Kalau melihat alasan putusnya hubungan, atau alasan mencari hubungan baru saat masih punya pasangan (baca: cheating) karena alasan-alasan di atas yang sepele tapi jadi besar, adalah alasan-alasan yang sebenarnya tidak perlu karena bisa dihindari.

Bagaimana cara menghindarinya?

Ada dua cara,

yang pertama adalah nrimo. Pasangan uda ditangan, dipilih dari sekian calon pasangan yang ada (=p), nah ketika sudah di tangan, ya sudah, baik-buruknya harus bisa diterima, kan tadi katanya cinta sebenarnya tidak bersyarat, hehehe =). Kecuali kalau pasangan udah ketauan ngga komit alias selingkuh. Itu harus putus. Karena selingkuh itu bisa terulang lagi. Ibarat gigi, berselingkuh itu sama kaya gigi gingsul yang sudah 3 tahun dibehel, ngga akan mungkin jadi 100 persen gingsul lagi kan?hehe. Ya ini juga sama, ngga akan bisa 100 persen setia lagi.

Yang kedua adalah ngaca. Tanya sama diri sendiri, apakah kita udah melakukan yang terbaik untuk pasangan? Apakah kita ini worth it untuk dipertahankan oleh pasangan? Kalau jawabannya belum, yuk ndang diperbaiki =)

Tulisan ini dibuat untuk merayakan 5th anniversary sahabat tercinta, @tiameutia and boyfie @irsyadrosyidi, selamat ya sayaang…

Aku tahu 5 tahun itu susah, tapi kalian bisa kasi bukti bahwa pada akhirnya, kriteria pmilihan pasangan itu akan jadi hal yang ngga penting lagi ketika finally we found our soulmate, whatever he/she like.

  • 6th December
    2011
  • 06
thank you for making me believe again on sanctity of a relationship. even when we are apart, I still feel safe here. because of our strong commitment, even the distance was not a problem at all =)

thank you for making me believe again on sanctity of a relationship. even when we are apart, I still feel safe here. because of our strong commitment, even the distance was not a problem at all =)

  • 24th April
    2011
  • 24

Golden Time

Abis liat Just Alvin, tentang para novelis cowok, ada Hilman Hariwijaya, Andrei Aksana, Moammar Emka sama Ahmad Fuadi.


Di salah satu wawancara, dengan Andrei waktu itu, Alvin tanya tentang bagaimana dia membagi waktunya antara menulis dengan bekerja, karena Andrei juga berprofesi sebagai pekerja kantoran biasa. Andrei bilang bahwa seseorang punya waktu-waktu tertentu untuk bisa membuat karya secara maksimal, he calls it golden time. Andrei menganggap bahwa saat-saat menjelang tidur adalah golden time dia untuk menulis, kalau pagi pikirannya buntu katanya, makanya harus dialihkan dengan mengerjakan yang lain, bekerja di kantor misalnya.

Ngomong-ngomong soal golden time, kalo dipikir ya, apakah kita akan merasa punya golden time kalo kita sendiri ngga tau kita bisa produktif dalam hal apa…ya ngga si? =)

Selama ini banyak temen-temen yang merasa ngga pernah total atau produktif dalam hal yang mereka kerjakan. Saya merasa sangat kasihan sama mereka..saya pun kadang banyak merasa begitu juga hehe.

Balik lagi ke passion, desire, that a MUST word for golden time.


Masalahnya, kadang kita sendiri yang harus cari passion kita, kadang itu ngga bisa datang sendiri. Menulis, menggambar, menyanyi, sepak bola, kegiatan-kegiatan ini adalah passion-passion yang bisa dengan gampang didetect. Tapi passion seperti main biola atau drum mungkin, balet, olahraga renang, atau mungkin olahgara memanah, masa bisa didetect kalo ngga pernah dikenalkan?

Sorry to write, menurut saya passion yang susah di detect ini sangat ada hubungannya dengan ketidakpekaan orangtua.

Entahlah apa yang ada di pikiran para orangtua yang memfokuskan anak-anaknya hanya pada bidang akademik. Apa mereka ngga tau ya duit itu datengnya bisa dari mana aja..hehehe..

Untuk orang yang uda terlanjur jadi orangtua, ya sudah oke lah kalo masi punya paham seperti itu, tapi buat KITA-KITA ini, calon orangtua, don’t ever do that same mistake.. let’s just let our child be what they want to be, as long as it’s still on the positive track..banyak-banyak lah mengenalkan mereka pada apapun yang ngga mungkin diajarkan di sekolah-sekolah umum..siapa tahu salah satu dari hal atau kegiatan yang kita kenalkan akhirnya dipilih untuk jadi passion mereka, and the rest time of their life can be their golden time =)

  • 17th April
    2011
  • 17

STUDY ABROAD

Salah satu filosofi bapak saya yang lumayan sering dikatakan adalah “seseorang tidak akan pernah mempunyai sisi thinking yang berbeda dan maju jika ia belum pernah sekolah di luar negeri”. Dulu waktu SD saya belum percaya, tapi dewasa ini, ketika di periode ini saya sudah mulai punya engagement dengan skripsi dan mulai memikirkan dunia kerja, barulah saya paham. Iya memang terlihat bedanya antara orang-orang yang hanya menempuh pendidikan di Indonesia dan yang sudah pernah menempuh pendidikan di luar negeri.

Bedanya dimana (selain di penguasaan bahasa asing ya hehe) sih?

Bedanya adalah di ketahanan kerja dan manajemen waktu.

Mungkin mereka terkena imbas budaya workaholic dan fungsionalis atau mungkin individualis dari negara barat atau negara-negara yang tentunya lebih maju dari Indonesia, sehingga akhirnya pelajar-pelajar Indonesia ini menjadi ikut-ikutan begitu juga. Dan bagusnya, kebanyakan pelajar ini tidak bisa dengan mudah meninggalkan budaya ketimuran seperti sopan santun atau unggah-ungguh istilahnya. Sehingga hasilnya adalah pribadi yang jago bahasa asing, dengan ketahanan kerja yang tinggi dan manajemen waktu yang baik, serta punya integritas ketimuran.

Sounds perfect?

Betenya, adalah ketika ada jabatan-jabatan tertentu di perusahaan yang sebenarnya tidak seberapa butuh penguasaan bahasa asing, seperti teller bank nasional yang nasabahnya jelas-jelas nyaris 100 persen orang pribumi, yang waktu proses seleksi dan rekuitmennya memakai bahasa inggris, ngga nyambung banget..hehe. dan jangan salahkan yang daftar jika mereka kagok waktu sesi wawancara bahasa inggris, karena memang kualifikasinya hanya untuk teller, jangan berharap calon pendaftar yang “lebih-lebih”..hehehe.. tapi entahlah, mungkin perusahaan-perusahaan itu punya pemikiran sendiri yang saya belum tahu.

Balik lagi ke pelajar-pelajar yang sudah pernah sekolah di luar negeri, di Surabaya masih agak jarang ya, tapi mungkin di Jakarta uda biasa banget..

Soal temen-temen yang sedang atau sudah menempuh pendidikan S1 atau S2 di luar negeri, atau yang hanya ikut pertukaran pelajar selama satu minggu sampai tiga bulan, saya punya beberapa. Dari mereka, saya memang melihat perbedaan individu yang secara keseluruhan menjadi lebih baik sewaktu mereka pulang, selain lebih bersih kulitnya karena udara di luar negeri bagus banget hehe, yang terlihat mencolok lainnya adalah percaya diri yang meningkat, bukan jadi kepedean, tapi lebih ke arah optimisme bahwa diri mereka bisa. Optimisme ini adalah suatu hal yang sangat positif karena akan mempengaruhi banyak hal, mulai dari etos kerja sampai cara berpikir mereka.

Saya sendiri belum pernah keluar negeri, dan juga entahlah apa bisa keluar negeri nanti hehe, tapi terlepas dari itu, saya belajar, bahwa ngga harus ke luar negeri kok untuk mendapatkan etos kerja yang tinggi, pemahaman bahasa asing yang baik, cara berpikir yang terstruktur, dll. Cukup dengan niat dan praktek. Memang butuh usaha ekstra karena lingkungan belajar kita ngga sekondusif di luar, tapi kalo kita bisa seperti mereka, justru lebih hebat kan =)

Apapun, yang penting adalah totalitas. Totalitas mendekatkan kita dengan apapun impian kita, lulusan Indonesia atau luar Indonesia, nanti waktu daftar kerja bakal balik lagi deh ke kompetensi, dan kompetensimu, cuma kamu yang bisa bangun, bukan kampusmu. Oke? SMANGAT!

  • 20th February
    2011
  • 20

Bukik

Pertama bertemu, di kelas Filsafat Manusia semester 2.

Dosen bercelana jeans lengkap dengan tas pinggang serta rokok di tangan dan gerakan badan seperti tidak tenang mirip orang autis.

Pertama melihat, saya sangat mengeryitkan dahi, siapa orang ini, mengajar dengan celana jeans seperti anak kuliahan saja. Apalagi dengan bibir hitam tanda banyak merokok dan mata lebar dan besar yang terlihat lelah.

Dia berjalan ke tengah kelas. lalu terdiam beberapa saat sambil memandang ke sekeliling kelas, menyeringai, memperlihatkan seluruh giginya, lalu berkata dengan penuh semangat dan suara yang mantap, “YAK SELAMAT SIANG, mau apa kita hari ini?”

Satu kelas terdiam karena bingung. Mau apa kita hari ini? Mau kuliah lah..mana materinya paak?, pikir saya.

Tidak disangka, setelah itu sisa waktu saya di kelas terasa sangat berbeda. Dosen ini sungguh berbeda dari yang lain.

2 sks yang saya tempuh di kelas hari itu entah mengapa berlalu dengan begitu cepat dan begitu pula dengan semua mata kuliah lain yang dihandle olehnya sampai semester 7.

Wajar bila kita mengatakan bahwa kita mempunyai dosen yang berapi-api dalam mengajar, memiliki semangat tinggi dalam menerangkan materi, seolah-olah materi kuliah kita adalah hidupnya. Tetapi jarang ada dosen yang bisa menebarkan pemikiran out of thinking atau out of the box pada murid-muridnya.

Bukik inilah guru pertama dalam hidup saya yang mengajarkan bahwa memang ada banyak cara untuk menuju Roma, salah satunya adalah dengan caranya.

Biasanya saya mempersiapkan diri dan mata untuk menatap dan mencatat powerpoint buatan dosen atau sesama teman saat perkuliahan berlangsung, apapun mata kuliahnya. Tapi di mata kuliah Bukik, bahkan buku tulis dan apapun yang ada di dalam tas saya sama sekali tidak berguna alias tidak terpakai.

Dia mencintai spontanitas.

Spontanitas respon kita terhadap 2 sks yang dimandorinya. 2 sks yang selalu bermanfaat bahkan sampai ratusan sks selanjutnya dalam hidup saya.

Percaya atau tidak percaya, dalam 12 kali tatap muka selama 6 bulan di kelas Filsafat Manusia, Bukik selalu memberi sesuatu yang berbeda di tiap pertemuannya. 12 kali bertemu, 12 kali berpikir spontan dengan banyak cara, 12 cara berbeda untuk menuju Roma.

Sangat banyak yang saya dapat secara personal dari Bukik.

Dia adalah orang yang membukakan mata saya, menyadarkan saya bahwa saya bisa menjadi pribadi yang hebat.

Dia yang pertama kali memaksa pikiran saya yang selama ini selalu sudah diset untuk berjalan lurus, menjadi berjalan belok, naik turun, melihat lebih banyak, dan akhirnya sampai di tempat yang sama dengan bekal yang lebih dari cukup.

Les menari, menjadi koordinator berbagai kegiatan, mengenal orang-orang papan atas berbagai perusahaan, blog ini, postingan di youtube, dan pencapaian-pencapaian lain yang saya dapatkan, mostly dilatarbelakangi oleh Bukik.

Tanpa bukik, saya tidak akan pernah berpikir bahwa hidup ini harus dijalani dengan penuh passion. Karena dia, setiap detik yang saya miliki, adalah waktu untuk membangun. Membangun citra, membangun diri, membangun sesama, membangun negara, tentunya dengan cara saya sendiri, cara ke-13 untuk menuju Roma. =]

Terima kasih banyak Pak..Mitch Albom have Morrie, I have you.

Nb : Follow him @bukik, learn his passion and I swear after that you’ll be thinking of yours and can go straight with it. Your own passion, change and brighten your life.

  • 14th January
    2011
  • 14

this is my presentation ‘bout personal brand and the importance